Selasa, 10 Mei 2016

Paham-Paham Baru pada Masa Pergerakan Nasional Indonesia

S
ebelumnya saya telah mem-posting tentang latar belakang terjadinya pergerakan nasional di Indonesia. Disitu sudah saya sebutkan apa saja faktor yang menjadi pemicunya, bukan? Nah, salah satu faktor eksternalnya adalah masuk dan berkembangnya paham-paham baru dari Eropa dan Amerika. Pasti kalian penasaran kan apa saja paham baru yang dimaksud itu? Kali ini, saya akan membahas tentang itu. Silahkan membaca! J
            Sebelum masuk ke masalah apa saja paham-paham baru yang dimaksud, kita harus tahu terlebih dahulu apa itu ‘paham’. Paham disini bukan berarti mengerti tentang suatu hal, namun berarti ‘prinsip’ atau ‘kepercayaan’. Paham disini memiliki kesamaan arti dengan ‘aliran’ yang berarti suatu hal kagiatan yang di dalamnya terdapat suatu prinsip-prinsip yang menjadikan suatu hal tersebut tertata rapi dan sesuatu tersebut mempunyai keanggotaan yang dipimpin oleh seorang ketua dan aktifitasnya mencari anggota agar prinsip-prinsip yang ada mengarah kepada untuk diikuti bagi anggotanya. Suatu paham/aliran yang terorganisir disebut gerakan.
            Pada masa pergerakan nasional muncul beberapa paham baru yang sampai ke Indonesia. Paham-paham tersebut adalah liberalisme, nasionalisme, demokrasi, sosialisme, dan pan-islamisme. Berikut penjelasannya beserta tokoh yang mempelopori paham tersebut, cekidot!
A.    Liberalisme
Liberalisme merupakan paham yang mengutamakan kebebasan dan kemerdekaan individu. Istilah liberalisme berasal dari bahasa Latin, libertas, yang artinya kebebasan, sedangkan dalam bahasa Inggris, liberty, artinya kebebasan. Kebebasan yang dimaksud adalah kebebasan individu untuk memiliki tempat tinggal, mengeluarkan pendapat, dan berkumpul.
Bagian terpenting dalam liberalisme adalah individu. Masyarakat harus mementingkan individu, karena masyarakat itu terdiri atas individu-individu dan karena itu masyarakat adalah akibat dari adanya individu. Kemerdekaan individu harus dijamin. Pada hakikatnya, paham liberalisme ini timbul karena reaksi terhadap penindasan yang dilakukan oleh kaum bangsawan dan kaum agama di zaman absolute monarchie.
Tokoh pelopor paham ini adalah Jean Jacques Rousseau yang mengemukakan dalam bukunya yang berjudul Du Contrat Sosial bahwa orang ingin melepaskan dirinya dari kekangan manusia. Oleh karena motivasi untuk melepaskan diri dari kekangan inilah muncul paham liberalisme yang intinya adalah sebuah kebebasan.
B.   Nasionalisme
Nasionalisme adalah suatu paham rasa cinta terhadap bangsa dan tanah air yang ditimbulkan oleh persamaan tradisi yang berkaitan dengan sejarah, agama, bahasa, kebudayaan, pemerintahan, tempat tinggal dan keinginan untuk mempertahankan dan mengembangkan tradisinya sebagai milik bersama dari anggota bangsa itu sebagai kesatuan bangsa.
Tokoh pelopor dari paham ini ada 4 yaitu Joseph Ernest Renan, Otto Bouer, Hans Kohn, dan Louis Sneyder. 
J  Menurut Joseph Ernest Renan, nasionalisme adalah keinginan untuk bersatu padu antar warga negara tanpa paksaan dengan semangat persamaan. Sebagai contoh adalah bangsa Swiss yang terdiri dari berbagai bangsa dan budaya dapat menjadi satu bangsa dan memiliki negara.
J  Menurut Otto Boeur, nasionalisme adalah kesatuan perasaan dan perangai yang timbul karena persamaan nasib. Sebagai contoh adalah nasionalisme negara-negara Asia.
J  Menurut Hans Kohn, nasionalisme adalah kesetiaan tertinggi yang diberikan individu kepada negara dan bangsa.
J  Menurut Louis Sneyder, nasionalisme adalah hasil dari faktor-faktor politis, ekonomi, sosial dan intelektual pada suatu taraf tertentu dalam sejarah. Sebagai contoh adalah timbulnya nasionalisne di Jepang.
C.    Demokrasi
Demokrasi berasal dari bahasa Yunani, demos, artinya rakyat, dan kratos, artinya pemerintahan. Jadi, demokrasi dalam arti sempit adalah pemerintahan di tangan rakyat. Dalam arti luas, demokrasi adalah suatu sistem pemerintahan yang mengakui hak segenap anggota masyarakat untuk ikut memengaruhi keputusan politik baik langsung atau tidak langsung.
Demokrasi mula-mula diterapkan di Yunani Kuno, yakni demokrasi langsung, kemudian berkembang ke negara Eropa lainnya, dan akhirnya ke Indonesia.
Tokoh pelopor paham ini adalah Jean Jacques Rousseau, John Locke dan Montesquieu.
J  Jean Jacques Rousseau mengatakan bahwa dalam keadaan alamiah, manusia pada dasarnya baik, cinta damai, memiliki kebebasan mutlak sejak lahir dan tidak suka perang sebab tidak terdapat rasa benci, dendam dan iri hati pada dirinya. Dalam buku Du contract social, Rousseau mendambakan demokrasi langsung dimana sistem kenegaraan setiap warga negara yang jumlahnya tidak begitu banyak menjadi pembuat keputusan dalam suatu wilayah yang tidak terlalu luas, contohnya yang terjadi di Yunani.
J    John Locke mengatakan bahwa manusia dalam keadaan alamiah adalah bebas merdeka dalam mengatur tindakan mereka. Manusia sama sederajat, semua kekuasaan bersifat timbal balik, tidak ada orang yang lebih berkuasa daripada orang lain (perfectly free and equals). Meskipun manusia bebas merdeka dalam mengatur tindakan, manusia tidak mempunyai kebebasan menghancurkan dirinya sendiri ataupun makhluk lain di sekitarnya. Menurutnya, kekuasaan pemerintah harus dipisah menjadi 3 yaitu legislatif, eksekutif, dan federatif agar tidak terjadi kekuasaan tunggal.
J Montesquieu mengemukakan gagasannya mengenai Trias Politica yang memisahkan kekuasaan dalam 3 bentuk yaitu hukum (legislatif), pelaksana hukum (eksekutif) dan pengadilan (yudikatif). Tujuan Trias Politica ini adalah agar kebebasan politik rakyat dapat terjamin dan tidak terjadi kekuasaan yang sewenang-wenang.
D.   Sosialisme
Sosialisme adalah paham yang menghendaki suatu masyarakat yang disusun secara kolektif agar menjadi suatu masyarakat yang sejahtera/bahagia. Kata sosialisme berasal dari bahasa Latin, socius, artinya kawan. Tujuan sosialisme adalah mewujudkan masyarakat sosialis dengan jalan mengendalikan secara kolektif sarana produksi dan memperluas tanggung jawab negara bagi kesejahteraan rakyat. Sosialisme ini adalah paham yang bertentangan dengan liberalisme.
Tokoh pemikir sosialisme adalah Robert Owen, seorang yang menulis buku A New of Society an Essay on the Formation of Human Character. Ia adalah orang yang pertama menggunakan istilah sosialisme.
Tokoh pelopor lainnya adalah Saint Simon, Piere Proudon, Charles Fourier, Karl Marx. Seorang yang dikenal sebagai Bapak Sosialisme adalah Karl Marx.
E.     Pan – Islamisme
Pan-Islamisme adalah paham yang bertujuan untuk menyatukan umat Islam sedunia. Paham ini dipelopori oleh Jamaluddin al Afgani (1839 – 1897).
Ide Pan-Islamisme erat kaitannya dengan kondisi abad ke-19. Pada abad ini terjadi kemunduran di negara Islam. Sebaliknya, di negara Barat terjadi kemajuan yang disertai pengembangan kekuasaan (penjajahan). Jamaluddin melihat penjajahan terhadap negara Islam ini harus dilawan apabila mereka bersatu, contoh campur tangan Inggris di Afganistan, di Mesir, di Irak, dan di Iran. Hal ini menambah keyakinan bahwa Islam harus bersatu. Upaya penyatuan dunia Islam ini disebut Pan-Islamisme. 

Referensi:

Sabtu, 07 Mei 2016

Bagaimana Bisa Pergerakan Nasional Terlahir di Indonesia?

P
ergerakan Nasional? Apa sih sebenarnya ‘Pergerakan Nasioanal’ itu dan kapan terjadinya? Buat yang pada belum tau atau yang hanya sekedar tau sekilas, nih, kali ini saya posting tentang ‘Pergerakan Nasional’. Jadi, kata ‘Pergerakan Nasional’ merupakan sebuah perjuangan yang dilakukan oleh organisasi secara modern ke arah perbaikan hajat hidup bangsa Indonesia yang disebabkan rasa ketidakpuasan terhadap keadaan masyarakat yang ada. Dengan demikian istilah ini mengandung arti yang sangat luas. Gerakan yang mereka jalankan memang tidak hanya terbatas untuk memperbaiki taraf hidup bangsa tetapi juga meliputi gerakan di berbagai sektor, seperti: sosial, ekonomi, pendidikan,  keagamaan, kebudayaan, wanita, pemuda dan lain-lain.
Sedangkan istilah ‘nasional’ berarti bahwa pergerakan-pergerakan tersebut mempunyai cita-cita nasional untuk mencapai kemerdekaan bagi bangsanya yang masih terjajah. Disamping itu, sifat pergerakan pada masa ini lebih bersifat nasional bila dibanding dengan sifat pergerakan sebelumnya yang bercorak kedaerahan.

Tahun 1908 adalah titik permulaan bangkitnya kesadaran nasional. Pada tahun itu lahirlah organisasi pergerakan nasional yang pertama, Budi Utomo, yang kemudian disusul oleh organisasi-organisasi lainnya.
Munculnya pergerakan nasional ini dilatarbelakangi oleh berbagai faktor, baik faktor internal maupun faktor eksternal.

A.    Faktor Internal
Faktor internal merupakan faktor yang muncul dari dalam negri, yaitu sebagai berikut.
1.    Kondisi Sosial, Politik, dan Ekonomi yang Parah Akibat Penjajahan (Kolonialisme)
Penindasan, kekejaman, dan eksploitasi berlebihan yang telah dilakukan oleh pemerintah kolonial Belanda terhadap penduduk Indonesia menimbulkan rasa benci dan ketidakpuasan penduduk Indonesia terhadap pemerintah kolonial Belanda sehingga memicu munculnya perlawanan terhadap penjajah.
2.    Munculnya Golongan Terpelajar
Pada awal abad ke-20, pendidikan mendapatkan perhatian yang lebih baik dari pihak pemerintah kolonial. Namun hanya sebagian dari anak atau pemuda-pemudi Indonesia yang mempunyai kesempatan untuk mengenyam bangku pendidikan di sekolah-sekolah pada masa itu. Dari sinilah muncul banyak tokoh-tokoh terpelajar yang mempelopori pergerakan nasional diantaranya, Ir. Soekarno, Moh. Hatta, Agus Salim, Tan Malaka, dan Ki Hajar Dewantara.
3.    Tumbuhnya Kenangan Akan Kejayaan Bangsa Pada Masa Lampau
Sebelum kedatangan bangsa Barat, di wilayah Indonesia sudah berdiri beberapa kerajaan-kerajaan besar, seperti Kerajaan Sriwijaya, Mataram, dan Majapahit. Kejayaan masa lampau itu menjadi sumber inspirasi untuk melepaskan diri dari belenggu bangsa Barat.
4.    Adanya Diskriminasi Rasial
Diskriminasi ini mulai diterapkan oleh pemerintah kolonial Belanda pada awal abad ke–20. Contoh dari bentuk diskriminasi yang mereka terapkan adalah tidak semua jabatan tersedia bagi kaum pribumi. Meskipun dengan latar pendidikan dan keahlian yang sama, jabatan penduduk Indonesia harus lebih rendah dibandingkan jabatan orang Belanda
5.    Penderitaan Rakyat Akibat Politik Drainage (Pengerukan Kekayaan)
Pengerukan kekayaan diterapkan oleh pemerintah kolonial Belanda antara lain dengan cara menarik pajak yang tinggi kepada penduduk pribumi. Politik Drainage ini mencapai puncaknya pada saat penerapan sistem tanam paksa (cultuur stelsel).
6.    Pengalaman Perjuangan Masa Lampau.
Perjuangan fisik dan bersifat kedaerahan ternyata tidak banyak berhasil, sehingga mendorong untuk mengubah cara perjuangan.
B.   Faktor Eksternal
Faktor eksternal merupakan faktor yang muncul dari luar negri, yaitu sebagai berikut.
1.    Kemenangan Jepang Atas Rusia
Kemenangan Jepang dalam Perang Rusia-Jepang (1904-1905) menyadarkan bangsa Indonesia bahwa bangsa Barat yang selama ini dianggap superior ternyata dapat dikalahkan oleh bangsa Asia.
2.    Kebangkitan Nasionalisme Negara-Negara di Asia-Afrika
Beberapa bangsa yang telah lebih dulu berjuang menentang penjajahan bangsa Barat sehingga mendorong lahirnya nasionalisme di Indonesia adalah sebagai berikut.
J  Nasionalisme Turki dengan tokohnya Mustofa Kemal Pasha yang berhasil membangkitkan negaranya menjadi bangsa yang modern
J  Pemberontakan Boxer di Cina (1899) melawan kesewenang-wenangan bangsa Barat
J  Pemberontakan rakyat Filipina terhadap penjajahan Spanyol
J  Revolusi Tiongkok (1911) dan pembentukan Partai Kuomintang oleh Sun Yat Sen yang berhasil menjadikan Cina sebagai negara merdeka pada tahun 1912
J  Kebangkitan nasionalisme India dan munculnya tokoh karismatik, Mahatma Gandhi
3.    Masuk dan Berkembangnya Paham-Paham Baru dari Eropa dan Amerika

Paham-paham baru seperti liberalisme, demokrasi, dan nasionalisme muncul setelah terjadinya Revolusi Amerika dan Revolusi Prancis. Hubungan antara Asia dan Eropa menyebabkan paham-paham itu mudah menyebar dari Eropa ke Asia, termasuk Indonesia. Paham-paham baru tersebut membangkitkan semangat nasionalisme dan motivasi pada golongan terpelajar untuk berjuang membebaskan diri dari belenggu bangsa Barat.
Referensi:
Buku Sejarah 2 “Yudhistira”
Buku Sejarah Indonesia Kelas XI “Erlangga”